“ Bangun Renata!” panggil seorang wanita berumur sekitar 30 tahun dipanggil mama oleh gadis yang dipanggilnya Renata itu.
“ Iya ma, ini juga udah bangun, udah siap buat hadapi hari ini” seru gadis berambut lurus yang sejak bayi telah dipanggil Renata itu.
Hari ini adalah hari pertama dia masuk Sekolah Menengah Atas yang diimpikan selama ini. Rasa bangga dalam hatinya membuat dia mempunyai semangat yang tinggi untuk hadapi hari ini. Renata sosok gadis yang periang, dia lebih suka apa adanya, sederhana dalam menjalani hidupnya. Sifatnya itu yang membuat banyak orang menyukai dan menghargainya. Hari ini dia berharap banyak keajaiban dan kebahagiaan datang menghampirinya.
“ Huuhhhhh,, hari ini aku harus semangat, Ya Allah semoga hari ini jadi yang menyenangkan, amien” pintanya dalam hati
Dalam perjalanannya menuju kesekolah hatinya benar-benar berdebar keras sampai-sampai dia pun merasa gugup. Sesampainya di gerbang sekolah dan memarkir sepedanya secara tidak sengaja sepedanya berdampingan dengan sepeda cowok yang waktu test masuk pinjam penghapus dan sejak saat itu Renata mulai merasakan keanehan di hatinya. Dag, dig, dug hatinya, hingga dia harus ada dalam dunia lamunannya, hemmm..
“ Haiii,, pagi-pagi udah ngalamun, belum sarapan???!!” sapa seorang cewek yang tiba-tiba menepuk bahunya.
“ Hemm????!! Gak kok, siapa yang ngalamun,” jawab Renata menahan malu.
Kemudian mereka menuju ke lapangan untuk mengetahui pembagian kelas mereka. Nama Renata dan Farah, teman ceweknya berada dalam satu kelas dan betapa kagetnya ketika nama cowok itu pun berada dalam satu kelas dengan mereka. Rasa senang dan kaget benar-benra mengguncang hati Renata.
“ Tuhan, apa yang harus aku lakukan?! Kenpa Engkau takdirkan kami satu kelas?!” keluhnya dalam hati.
Dia benar-benar berharap hari-harinya bisa dikendalikan dan bisa membuat dia nyaman dengan keadaan ini. Hari itu adalah awal masa MOS disekolah itu, banyak sekali hal yang terjadi yang membuat Renata harus bisa mengendalikan hatinya dan di hari itu pula dia tahu ternyata Gilang banyak yang ngeFans karena memang dia salah satu cowok yang cakep, tinggi, baik so siapa sich yang gak suka sama dia. Hati Renata bener-bener harus ditata lagi dia gak mau berharap walaupun dia dikelas dia menjabat sebagai sekertaris yang mendampingi Gilang yang menjabat sebagai ketua kelas tentunya bakal jadi partner kerja lumayan sering.
Farah, teman Renata yang sepertinya keduanya bakal jadi sahabat itu lebih bisa deket lebih cepat dengan Gilang. Ini pertama kalinya seorang Renata harus merasakan jatuh cinta yang akan membuat dia merasakan namanya sakit hati entah kapan untuk pertama kalinya. Sepulang sekolah dia, Farah, Gilang dan Damar pulang bareng menuju parkiran sepeda namun karena arah rumah mereka berlawanan akhirnya Farah dan Gilang pulang ke barat sedangkan Renata dan Damar pulang ke timur. Dalam perjalanan pulang Renata dan Damar yang sudah kenal sejak SD hingga SMP bahkan sampai sekarang itu tiba-tiba tanpa sadar dia menceritakan semua isi hatinya kepada Damar, Damar yang mengira sosok Renata tak bisa jatuh cinta terkaget- kaget.
“ Hah?? Apa? Jadi kau juga ikut-ikutan suka kaya anak-anak cewek lain yangtergila-gila sama Gilang?!” kaget Damar sambil kebingungan
“ Ya biasa aja dong, ya wajar lagian aku kan cewek jadi gak masalah kan? Tapi kayak nya….”
“ Iya, kayanya sulit kan?! Hemmm,, udah jangan banyak berharap ntar sakit hati bunuh diri lagi” potong Damar sambil tertawa meledek Renata
“huh, bukannya dukung apa gimana palahan diketawain” kesal Renata
Tak terasa tiba-tiba mereka sudah berada di depan rumah Renata.
“Mampir gak nhe?!” tanyanya
“ Gak lah udah siang lagian aku juga ntar ada SSB, mau ikut nonton gak?! Ada Gilang lho..” ledek Damar sambil tak puas-puasnya tertawa
“ Gak, makasih!” jawab Renata kesal dengan sikap Damar langsung berlalu masuk ke dalam garasi dan memarkir sepedanya.
Setelah cuci tangan, ganti pakaian, solat dan makan Renata langsung mengambil novel dan duduk di teras kamarnya. Namun tiba-tiba HP nya berdering nada SMS masuk. Dia penasaran gak biasanya siang-siang gini ada yang SMS dan belum ada kontak namanya semakin penasaran hatinya.
Siang, maaf nhe numnya Renata bukan?
Setelah dia balas SMS itu betapa kagetnya ternyata itu nomer kakak kelasnya di SMA, namanya Aef. Sejak itu akhirnya Renata SMSan walaupun dia belum tahu pasti wujud muka kakak kelasnya itu. Dari awal perkenalan itu membuat Renata akrab dengan kak Aef walaupun mereka hanya kontak lewat SMS. Yang paling memalukan ternyata kak Aef itu adalah ketua OSIS dan Renata terlambat mengetahui itu semua.
“ Aduuhhh,, giman nhe rah? Mampus aja gue” sesal Renata
“ Lagian emang kamu gak tahu apa kalau ketua OSIS sekolah kita namanya Aef?!” tanya Farah.
“ Makanya jangan cuma tahu tokoh novel doang, tokoh sekolah juga kamu harus tahu Ren!!” sahut Gilang tiba-tiba.
Damar hanya bisa kembali menertawakan kecerobohan teman akrabnya itu. Renata, Farah, Damar dan Gilang seiring berjalannya waktu telah menjadi sahabat dekat, kemana-mana mereka selalu sering bersama dan tentang perasaan Renata ke Gilang dia lebih suka sekarang apa adanya dia tidak ingin apa yang dia rasakan harus banyak orang yang tahu cukup Damar dan Tuhan yang tahu itu prinsipnya saat ini. Sekarang yang dalam pikirannya kenapa kak Aef bisa tahu nomernya dan apa tujuannya?! itu sungguh keanehan kalaupun dia suka sama Renata gak mungkin, kak Aef udah punya pacar kak Risa, terus kenapa coba?. Kebingungan secara tidak langsung meyelimuti hati Renata dan secara tidak langsung ketiga sahabatnya pun ikut merasakan kebingungan itu karena tempat curhatnya hanya kepada mereka, jadi suka duka bersama mereka rasakan.
Dua bulan berlalu dengan cepat, satu sama lain semakin saling kenal hingga banyak diantara mereka yang harus pacaran karena rasa saling suka yang memaksa mereka. Banyak hal yang di alami oleh remaja pada masa-masa itu, sungguh masa yang indah sepertinya. Begitupun yang akan di alami oleh Renata dan ketiga sahabat setianya itu yang sedang mengalami masa transisi yang sangat sulit. Bulan itu adalah bulan yang sangat ditunggu-tunggu oleh Renata yaitu bertambahnya usia dia menjadi 16 tahun, merupakan umur yag masih dibilang muda dibanding dengan teman-teman yang lain yang usianya banyak yang lebih tua satu, dua tahunan itu. Hari yang ditunggu tiba, banyak ucapan yang terucap untuknya sampai-sampai dia bingung harus jawab apalagi.
“ Renata!!” panggil Damar
“Apa mar? kamu mau kasih kado apa ke aku?” celetuk Renata sengak
“ Yyeeee sapa yang mau ngasih kado, Cuma mau kasih tahu ntar sepulang sekolah jangan pulang dulu ditunggu ditaman depan kelas” jelas Damar singkat
“ Ditunggu siapa?” tanya dia penasaran
Namun tiba-tiba Damar telah menghilang dari hadapannya. Renata bingung sebenarnya siapa sich yang nungguin dia ntar siang?!. Pikiran tentang siapapun muncul hingga saat pelajaran dia sempat ngalamun sampai-sampai guru pun menegurnya.
Bel pelajaran terakhir pun berbunyi, Renata segera menuju ke taman.
“ Ren!!” panggil Farah yang bingung dengan sikap Renata
“ Mau pulang bareng gak?!” tanya Damar tiba-tiba
“ Renata kenapa? Kok buru-buru gitu?! Gak biasanya?!” tanya Faraha penasaran sambil berjalan bareng Damar
“ Mana ku tahu, mungkin kebelet kali jadi harus lari-lari gitu” jawabnya asal nyeplos itu.
15 menit berlalu tanpa sesuatu yang berarti di taman itu. Pikiran Renata yang sudah dibanjiri tanda tanya itu tak henti-hentinya membuat hatinya gelisah iingin tahu siapa yang akan menemuinya. Sampai hampir satu jam tak berlalu apa-apa, akhirnya dia memutuskan meninggalkan taman itu dan pulang. Rasa kesal kepada Damar pun tumbuh, sesampai di rumah dia langsung mengambil HP dan bertanya kepada Damar namun sayang Damar tak bmemberi keterangan apapun. Hari itu tak akan pernah dilupakannya, dia benar-benar kesal karena telah dibuat berhadapan dengan hal yang paling dia benci yaitu menunggu.
“ Renata!!! Ada temannya ini datang” panggil mamanya
“ iya ma,” dengan muka kesal dia menuju ruang tamu dan dia berharap bukan Damar, Farah ataupun orang yang udah ngebuat dia harus nunggu dan kesini cuma mau minta maaf, gak akan pernah dia mau ketemu lagi.
“ Kak Aef?!” betapa kagetnya dia setelah tahu yang datang adalah kak Aef. Disaat hatinya gundah gulana hanya kak Aef yang selalu setia menghiburnya.
“ Iya, gak ganggu kan?!” Tanyanya sambil tersenyum kepada Renata
“ Gak kok kak, ada apa tumben banget kesini?!” Tanya nya gugup karena walaupun mereka sering SMSan tapi mereka jarang bahkan bisa dihitung pake jari berapa kali mereka ngobrol berdua. Yang pertama saat hujan sepedanya bocor kak Aef yang nganterin pulang, saat diperpus karena telat balikin novel dan kena marah petugas perpus yang killer kak Aef lagi yang nolong, saat balikin novel kerumah Renata dan sekarang. Mungkin masih gugup untuk Renata.
“ ooowww,, tadi dari rumah Ve kebetulan lewat ya tak putusin buat mampir kesini sekalian pingin ngajakin main kamu, mau gak?!” jawabnya lugas
Hah, main? Tanya nya dalam hati. Waooooooo, kalau temen-temen tahu bisa heboh ini. Seorang Renata yang anak kaya gini diajakin main sama ketua OSIS, gila, bener-bener gila. Tapi dia bingung dan jadinya bengong deh.
“ Gimana?! Takut soal Risa?! Udah tenang aja, kita udah putus sejak 2 minggu yang lalu jadi gak usah takut ada fitnah apa gimana, mau ya?!” rayu kak Aef dengan nada yang cool banget bagi Renata. Sebenernya masalah suka apa gak dengan nhe orang jawabnya ada sedikit. Semua cewek kalau lagi jomblo dideketin sama cowok pastinya ada lah rasa suka itu walaupun cuma sesaat. Entah seneng apa sedih yang dia rasakan, disisi lain dia pingin sosok Gilang yang ngajakin tapi apa mungkin, sekarang aja dia cuma temen biasa dan super duper biasa tapi hatinya yang utuh tak akan pernah berpaling buat yang lain, mungkin.
Setelah berpikir mereka pun jalan. Hampir setengah hari mereka saling kenal dekat, bercanda, sampai mereka lupa waktu.
“ Makasih ya kak, hari ini udah ngajakin main dan udah ngehibur aku” kata Renata
“ Iya sama-sama. Ya udah sekarang aku anterin kamu pulang tapi sebelumnya ini ada kado buat kamu” sambil mengerahkan kotak kecil kepada Renata
“lho?! Apa ini kak?!” Tanya dia penasaran sambil buka kadonya
Sebuah kalung berbentuk peri lucu ada didalam kotak itu dan betapa kagetnya dia sampai dia bingung harus bilang apa.
“ Ren, datangnya kalung ini aku berharap kamu mau jadi seorang yang bisa aku jadikan teman suka duka, aku pingin kita gak cuma berteman tapi lebih, kalau kamu mau kamu pakai kalung ini tapi kalau kamu belum siap simpan aja dulu kalung ini kalaupun kamu sudah siap pakai ini, aku bakal setia kok buat nunggu kamu sampai kamu siap dan lambang ini pertanda walaupun gak ada aku disamping kamu tapi peri ini yang akan menjaga kamu ” terang kak Aef
Renata hanya bisa diam tertegun dan kaget. Rasa senang, sedih, bingung bercampur jadi satu dalam hatinya, keadaan membuat dia bingung dia tak mau salah bertindak akhirnya Renata memutuskan untuk menyimpan dulu kalung itu mungkin sampai dia siap atau bahkan tak akan pernah siap. Itu adalah hal berat dalam hidupnya tak mau menyakiti ataupun tersakiti. Sepulang dari kejadian itu Renata memutuskan untuk berpikir keputusan apa yang harus dia ambil. Akhirnya setelah renungan dengan berbagai pertimbangan dia memutuskan untuk menerima kak Aef sebagai pacar pertama dia dengan banyak harapan dalam hatinya.
“ Renata!!!” mama Renata tertegun melihat putrinya memakai kalung di hari itu. Hari itu tim futsal sekolahnya akan bertanding final dengan sekolah lain.
“ Mama jangan kaget gitu dong, Renata kan jadi malu ma,” jawab Renata sambil memeluk mama nya.
“ Kamu terlihat cantik dan berbeda sekali hari ini, mau kemana?!” Tanya mamanya sambil kembali memeluk Renata
“ Ma, Renata sekarang udah jadian sama kak Aef dan sekarang Renata mau ke sekolah mau lihat final Futsal, boleh kan ma?” Tanya Renat kepada mamanya
“ Jadi anak mama sekarang udah pacaran nih?! Ya udah mama setuju kok asal sekolahnya jangan dilupakan ya sayang!” jawab mamanya sambil memegang tangan Renata
“Iya ma, Renata pergi dulu ya, Love u mom” jawab Renata sambil memeluk mamanya kemudian pergi meninggalkan rumah.
Dengan sepeda setianya dia pergi ke sekolah. Sesampainya di sana tanpa disengaja dia bareng sama Gilang dan kegundahan hatinya timbul lagi tapi kini dia sadar sudah ada kak Aef yang harus dia jaga hatinya. Tanpa basa basi kepada Gilang dia langsung berjalan meuju ke arah teman-temannya dan tanpa dia sadari seorang kak Aef telah menunggunya di pinggir lapangan. Lambaian tangan kak Aef membuat Renata menghampirinya.
“ Good luck ya kak!” sapa Renata dengan senyuman
“ Makasih buat kalung itu dan dukunganmu” jawab kak Aef sambil memegangi tangannya
Sorak dari teman-teman kak Aef melihat tingkah laku itu membuat banyak anak tahu tentang realitionship itu. Jujur Renata malu dan sedih karena didepannya tepat sorot mata Gilang memandang ke arahnya. Walaupun Renata telah berusaha menjaga hatinya untuk tidak lagi berharap dengan Gilang namun hatinya tetap tidak bisa berbohong betapa besar rasa itu untuk Gilang.
“ Jadi gitu Ren?! Sekarang kamu jarang curhat dan gabung ma kita karena udah jadi pacar ketua OSIS kita?!” tanya Farah menghampiri Renata yang sedang duduk menunggu kak Aef di bangku taman. Renata tak bisa berkata-kata dia hanya diam dan membalasnya dengan senyuman dan tiba-tiba dia menangis memeluk Farah yang disaksikan Damar. Mereka merasa bingung dengan sikap Renata yang aneh itu.
“ Renata! Kamu kenapa?!” tiba-tiba kak Aef datang melihat Renata menangis
“ Gak kenapa-napa kok kak, cuma kangen aja sama Farah dan Damar udah lama gak ngobrol sama mereka, sekarang pulang yuk kak!” sambil menarik tangan kak Aef manja
“ Pulang dulu ya” sapa kak Aef pada Farah dan Damar. Renata hanya tersenyum kepada mereka.
Berjuta pertanyaan dipikiran Farah dan Damar sampai mereka pulang hanya diam tertegun dengan sikap Renata.
Siang itu memang panas membuat Renata malas bepergian sedangkan kak Aef sedang ada pengayaan disekolah jadi pulang sore. Renata hanya duduk diteras sambil membaca novel yang itu merupakan rutinitasnya.
“ Hai, serius banget mbacanya” Damar tiba-tiba datang dan duduk disampingnya
“ aku tahu kamu kesini penasaran kan dengan apa yang terjadi sama aku sampai-sampai aku harus sedikit menjauh dari kalian?” jelas Renata dan Damar hanya tersenyum memandang Renata.
“ Damar, kamu tahu kan betapa aku sejak dulu sayang banget sama Gilang?! Tapi aku selalu Cuma bisa menahan rasa itu sampai sekarang dan secara tidak langsung dengan mudahnya dia dekat dengan cewek lain membuat hatiku sakit aku tak banyak berharap darinya walaupun kita temen deket. Saat semua itu aku rasakan Cuma kak Aef yang bisa mengisi kekosongan itu, dan disisi hatiku yang lain mungkin rasa untuk kak Aef itu ada dan aku selalu berusaha sayang sama kak Aef seperti perasaan dia ke aku, meskipun sulit dan sakit hati ini melakukan hal itu, tapi harus ku coba dan sekarang rasaku ke kak Aef telah berhasil menutupi rasa ku ke Gilang. Aku telah memendam rasa itu sampai keakar hati aku, meskipun rasa itu masih besar, tapi kak Aef lebih utama untuk aku. Aku gak mau nyakiti orang yang udah ngisi hari-hariku. Tapi jujur sakit dan berat banget tapi kini aku nyoba buat sayang ke kak Aef” Renata secara tak sadar meneteskan airmata.
Damar hanya terdiam dan memahami apa yang sahabatnya rasakan. Sebenarnya dia ingin mengungkapkan sebuah rahasia tapi dia urungkan setelah tahu semua itu.
Hari berganti hari tak terasa 2 bulan berlalu dengan banyak cerita di SMA itu sampailah di bulan Februari dan buat anak SMA identik dengan hari kasih sayang, tapi tidak untuk Renata tepat 1 minggu sebelum hari itu tiba dia dan kak Aef putus alasannya sepele katanya kak Aef mau ujian jadi harus konsen gak mau pacaran dulu. Alasan itu bisa diterima oleh Renata awalnya namun ketika sepulang sekolah Damar dan Renata gak sengaja lihat kak Aef lagi duduk berdua di taman sekolah sama kak Risa, sakit banget rasanya harus dibohongin gitu. Rasa sakit itu tak akan pernah dilupakan oleh Renata sampai kapanpun semua yang udah dia korbakan harus berakhir dengan rasa sakit yang begitu hebat dan Damar yadng mengetahui itu semua akhirnya berusaha untuk menghibur Renata. Perayaan Valentine tiba dan di hari itu Renata tak ingin berharap banyak ketika menuju sekolahnya. Sampai dikelasnya dia duduk sama Farah dan dilacinya tiba-tiba ada surat dan coklat untuknya dan betapa kagetnya ternyata coklat dan surat itu dari Gilang. Hati Renata untuk Gilang yang sempat terpendam harus dia gali lagi sampai akhirnya Gilang mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya ke Renata.
“ Renata, sebelumnya aku mau minta maaf karena waktu ulang tahunmu aku udah buat kamu nunggu satu jam ditaman, waktu itu aku bener-bener belum siap tapi aku bingung harus gimana ngasih tahu ke kamu, dan sekarang di hari ini, di depan anak-anak aku pingin bilang kalau aku suka dan sayang sama kamu, aku mau di hari ini kamu jadi pacar aku, mau kan kamu?!” terang Gilang di depan anak-anak kelas dan sorak gembira dari semua anak kelas mendukung supaya mereka bisa jadian.
“ Udah terima aja kalau rasa itu masih ada dan masih bisa kamu gali lagi, mungkin ini jalan dari Tuhan untuk melupakan dan mengobati rasa sakit itu, jangan tunda lagi, percayalah aku yang udah menyaksikan kesetiaan dia untukmu” dukung Damar ketika Renata yang duduk disampingnya menatap kebingungan kepadanya. Renata berjalan menuju ke depan kelas dan menghampiri Gilang
“ tapi janji ya jangan buat aku nunggu buat kesekian kalinya lagi?!” jawab Renata dengan senyuman itu. Dan dihari itu dia akhirnya jadian sama Gilang kebahagiaan tiada terkira harusnya untuk Renata tapi luka yang dulu masih ada dihatinya entah sampai kapan.
“Renata!” panggil kak VE
“ kak Ve?! Ada apa? Mau pinjem novell?!” jawab Renata
“ Apa Gilang jadi pelampiasan rasa sakitmu?! Sampai-sampai kamu gak ngasih kesempatan Aef untuk minta maaf dan menjelaskan semua?!” kak Ve yang tiba-tiba marah membuat Renata kebingungan mau jawab apa.
“ Kamu tahu tadi Aef mau minta maaf ke kamu, tapi saat tiba di depan kelas dia lihat kejadian itu dan akhirnya dia urungkan niatnya, dia ngerasa bersalah dan aku tahu kamu sakit hati tapi gak gini Ren!!!” ujar kak Ve menjelaskan.
“ Rasa ini sudah terlanjur sakit kak, maaf” berlalu Renata sambil menahan airmata
Sejak kejadian itu dia sudah tak pernah mau mendengar soal kak Aef apapun itu rasa benci dan sakit hati telah dalam membekas di hatinya. Sampai akhir tahun ketika kak Aef telah lulus ujian rasa sakit itu masih ada walaupun telah banyak kisah yang Renata jalani dengan Gilang rasa itu masih membekas.
Dua tahun berlalu, Renata dan Gilang selalu putus nyambung akhir-akhir ini mungkin kejenuhan sedang melanda hubungan mereka. Saat pulang dari rumah Farah tak sengaja dijalan Renata ketemu kak Aef dan mereka saling pandang dan senyum pun tanpa tersadar terlontar dari diri mereka. Sampai dirumah ingin rasanya meminta maaf dengan kak Aef atas segala salah namun seperti tertahan oleh sesuatu entah apa.
Pagi itu dia bingung kenapa semalem tiba-tiba dia terbangun dan segala perasaan tidak enak pun muncul. Dia berangkat sekolah dengan rasa malas, sesampainya disekolah ketika dia akan menuju kekelasnya tak sengaja dia mendengar kalau kak Aef kecelakaan dan meninggal. Dia benar-benar kaget dan tidak percaya, rasa dihatinya sudah tak karuan dia berharap iu semua salah. Sesampainya dikelas Farah, Damar dan Gilang berdiri di pintu.
“ Farah, Damar, Gilang, tadi waktu aku mau ke kelas gak sengaja denger anak-anak pada bilang kalau kak Aef kecelakaan dan meninggal, apa itu semua bener?!” Tanya Renata terbata dan menahan airmata itu.
Dan Farah memeluk Renata dan secara spontan Renata menangis dan dia sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Luka dihatinya kini berubah menjadi rasa bersalah yang begitu besar dihatinya. Dia menyesal kenapa waktu itu dia gak minta maaf. Tiga hari yang lalu saat pertemuan itu dan senyuman itu ada tak disangka semua itu jadi yang terakhir untuk Renata.
Hari itu semua rasanya benar-benar hilang, rasa sayang yang masih sama seperti dulu itu kini benar-benar harus dia pendam entah sampai kapan. Rasa bersalah itu akan selalu dia rasakan dalam hati, meskipun keikhlasan telah mengiringi kepergian kak Aef untuk selamanya. Hatinya benar-benar tak bisa dilukiskan bagaimana perasaannya saat itu sampai sekarang rasa itu kadang masih sering muncul.
Walaupun hati dia telah dikuasai oleh Gilang namun rasa untuk kak Aef akan selalu tersimpan dihatinya sampai kapanpun sampai waktu sendiri yang akan merenggutnya.
“ Renata udah maafin kak Aef, maafkan Renata juga kak Aef, Renata udah jadi anak yang egois. Renata bakal selalu sayang dan kangen sama kak Aef meskipun hati Renata sudah ada yang lain tapi tetap ada tempat istimewa untuk kak Aef, tenanglah beristirahat disana kak,” batin Renata ketika dia menatap kepergian kak Aef untuk selamanya.
“ orang yang bener-bener sayang sama kita saat orang itu pergi dia tidak benar-benar pergi”